Dari mana asal segelas kopi?. Minuman kopi berasal dari pohon dengan bunga banyak yang menghasilkan buah berbiji. Saat masak buahnya yang seperti ceri berwarna merah dan mempunyai rasa manis. Di dalamnya ada biji dengan cangkang, umumnya dua buah namun terkadang ada juga yang hanya satu. Kopi dengan biji tunggal disebut peaberry atau kopi lanang, konon rasanya lebih enak dan harganya lebih mahal.

Biji kopi yang dipakai sebagai bahan pembuat minuman terdiri dari beberapa jenis. Yang paling dikenal adalah kopi arabika dan robusta. Namun masih ada jenis lain yaitu ekselsa dan liberika. Keempat jenis kopi itu berdasarkan spesies.

Ada jenis kopi lain yang dikenal di pasaran yaitu kopi luwak. Jenis kopi ini berasal dari aktivitas binatang luwak yang suka memakan buah kopi masak (merah), namun tidak tercerna dengan baik di perut sehingga bijinya akan keluar sebagai kotoran.

Meski dikumpulkan dari kotoran luwak, biji kopi ini dianggap sebagai salah satu yang terbaik dan punya rasa khas. Terbaik karena luwak hanya akan memakan buah kopi yang masak dan punya rasa khas karena biji kopi telah terfermentasi di dalam perut luwak. Tapi ini berlaku untuk luwak liar bukan luwak yang dikandangkan dan diberi makan buah kopi.

Mana yang terbaik atau terenak dari kelima jenis biji kopi itu setiap orang bisa punya alasan masing-masing. Namun di pasaran, jenis kopi yang ternama dan menguasai pasar serta dipakai di coffee shop adalah kopi arabika.

Bingung memilih kopi

Dulu disaat kopi masih di sajikan di warung, kedai atau rumah kopi tradisional, tidak sulit untuk memilih kopi. Di daftar menu umumnya hanya tertulis kopi hitam atau kopi susu. Variasinya manis, pahit, agak encer atau kental/pekat. Di Jalan Roda Manado, untuk memesan kopi yang tidak terlalu kental, pembeli akan mengatakan ‘Kopi Lombo’. Dan yang tidak ingin minum terlalu banyak akan memesan dengan mengatakan ‘Kopi Setengah’ (setengah gelas).

Namun dengan kehadiran kedai-kedai kopi modern terlebih yang mengusung seduh manual, pilihan kopi berdasarkan biji menjadi semakin banyak. Banyaknya pilihan ditandai dengan jejeran toples berisi biji kopi yang berderet di meja tempat barista (penyeduh kopi) bekerja.

Di masa-masa awal, pilihan biji kopi memang tak terlalu banyak. Apa yang disajikan umumnya adalah biji kopi yang sudah terkenal seperti kopi gayo, kopi toraja, kopi flores bajawa, kopi ijen, kopi pasundan, kopi kintamani dan kopi wamena.

Tapi seiring berkembangnya dunia perkopian, berbagai jenis atau varian kopi terus bermunculan. Sulit untuk menghafal karena kopi kemudian tidak saja dibranding berdasar geografisnya, melainkan juga pekebun atau bahkan penyangrainya. Menghafalkan namanya bisa membuat pusing kepala.

Kenapa biji kopi kemudian bisa bermacam-macam?. Karena jenis kopi yang sama misalnya arabika akan menghasilkan aroma dan rasa yang berbeda jika ditanam di tempat yang berbeda. Kopi gayo, toraja, kintamani, flores bajawa dan wamena papua adalah jenis kopi arabika, namun punya karakter berbeda karena dihasilkan dari kebun-kebun di pulau yang berbeda.

Perkembangan jagad perkopian yang pesat lima tahun terakhir ini membuat konsumsi dan Jemaah kopi juga meningkat pesat. Pasar baru ini melahirkan brand-brand kopi baru pula dengan penanda varietas, lokasi atau daerah kebun, tempat pengolahan dan lain sebagainya yang biasa disebut dengan single origin.

Dengan basis single origin ini maka menyebut kopi toraja saja tidak cukup karena akan ditanya lagi toraja apa?. Kalosi, sapan, yale dan seterusnya. Demikian juga jika kita menyebut kopi sumatera, maka bukan hanya ada gayo melainkan juga kopi sidikalang, lintong, mandailing, karo, takengon dan lain sebagainya.

Kalau mau semakin memperumit kopi tambah lagi istilah coffee blend, atau jenis biji/bubuk kopi yang diramu dari beberapa jenis kopi berbeda untuk menghasilkan rasa, aroma atau sensasi tertentu.

Dan akhirnya buat mereka yang mau menjadi peminum kopi yang benar sebenar-benarnya mesti juga paham tentang spesialti kopi.

Saya sendiri tak cukup punya pengetahuan dan keberanian untuk menerangkan soal yang terakhir ini. Pendek kata tidak usah bingung soal kopi, nikmati saja apa yang sesuai dengan hati dan kantong. Sebab salah memilih tempat dan kopi, bisa-bisa apa yang kita pilih bakal berasa dan beraroma uang karena amat mahal harganya.

Leave a Reply