Minum secangkir kopi di pagi hari menjadi cara bagi banyak orang untuk memulai hari. Yang dimaksudkan dengan kopi tentu saja minuman berwarna hitam yang diekstrak dari biji kopi yang telah disangrai dan kemudian digiling menjadi bubuk siap pakai.

Kopi identik dengan warna hitam. Hitam seakan menjadi identitas kopi, semakin hitam semakin baik bahkan kalau perlu ditambah dengan arang yang kemudian disebut sebagai kopi joss.

Kentel, begitulah mantera yang sering diucap oleh pengemar kopi yang fanatik. Kopi mesti diseduh dengan air panas, air yang baru mendidih, diberi gula dan kental atau pekat. Kisah ini bisa ditemukan dalam cerita para pengopi bahari ketika menceritakan simbah-simbah penjual kopi yang menaruh gula dan kopi mendekati setengah gelas.

Gelas kopi yang kemudian dituangi air panas itu diaduk sebentar saja, sehingga nanti bisa dituangi air panas kembali, atau di jog (diisi lagi). Dari cerita itu lahirlah jogya.

Tapi benarkah cara minum kopi yang benar seperti itu, apakah kopi selalu hitam dan pahit?.

Ternyata tidak. Kisah kopi yang hitam dan pahit ternyata merupakan warisan kolonial. Sebagai pengembang kopi, Belanda melarang masyarakat Nusantara meminum kopi terbaiknya. Alhasil yang biasa diminum oleh warga Nusantara sampai lama sesudah kemerdekaan adalah kopi robusta, yang disangrai sampai gosong.

Padahal kopi ternyata tak selalu hitam dan pahit. Rasa kopi amat kaya, tergantung dari tingkat kematangan sangrai dan cara menyeduhnya serta jenis biji kopinya.

Umumnya kita mengenal cara seduh kopi dengan cara rendam dalam wadah/gelas yang disebut dengan kopi tubruk.

Namun ketika kemudian diperkenalkan cara seduh lain dan tingkat kematangan kopi yang konon ada lebih dari 16 level itu, akhirnya jadi tahu bahwa ternyata ada kopi yang tak hitam pekat, kopi yang warnanya tidak beda jauh dengan coklat dan teh.

Kopi dengan sensasi atau rasa apa, akan bisa diracik oleh seorang barista atau pembuat kopi. Resepnya menggabungkan antara jumlah kopi dan air, tingkat kepanasan air dan waktu seduh. Tak heran jika kemudian barista mesti melengkapi diri dengan timbangan, timer dan thermometer.

Untuk mendapat rasa terbaiknya ternyata kopi tak harus diseduh dengan air mendidih yang baru diangkat dari kompor. Air mendidih bahkan bisa membuat kopi terbakar sehingga menyisakan rasa gosong.

Ya ternyata kopi tak harus diseduh dengan air panas, karena ada juga model seduh yang dinaman cold brew atau slow drip. Kopi diseduh dengan air biasa, air yang bersuhu ruangan. Tapi untuk meminumnya mesti sabar karena prosesnya bisa lebih dari 6 jam. Diseduh dengan cara ini ternyata rasa kopinya justru sangat intens.

Kini ada juga kopi yang tak berasa kopi, disebut sebagai kopi hijau yang diekstrak dari biji kopi yang tidak disangrai.

Dan yang terakhir adalah kopi kekinian, kopi yang dicampur dengan berbagai bahan lain yang sepertinya juga membuat kehilangan rasa kopinya atau hanya menjadi sebuah racikan minuman yang mengandung kopi.

Nah, menjadi jelas bahwa kopi ternyata tak selalu hitam dan tak selalu harus diseduh dengan air panas.

Namun apapun kopinya sebaiknya diminum tanpa tambahan gula sebab selain merusak rasa kopi, gula juga akan membuat peminum kopi kelebihan kalori.

Leave a Reply