Aku dihadang jalanan rusak, jembatan rusak, dan alam yang rusak. Inilah kisah perjalanan yang aku alami ketika mengunjungi desa Momalia di Kecamatan Posigadan, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara (Sulut), pertengahan tahun 2012.

Semangat menuju desa Momalia terpancar dalam diriku guna memberi pembekalan dan pelatihan kepada pengelola radio komunitas disana. Pelatihan dimaksud bernama Broadcast Trainning Radio Komunitas yang terlaksana berkat kerjasama multipihak guna mendukung Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Lingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-LMP). Berikut ceritanya….

Jalan Trans Sulawesi

Rombongan kecil tim kami melaju dengan kecepatan terukur dari kawasan Citraland Manado hingga menembus jalan trans Sulawesi. Tiga mobil beriringan bergerak menyusuri tepian laut disepanjang rute Manado-Amurang. Jalur cepat jalan trans berkelok dan naik turun perbukitan ini terisi canda tawa. Banyak gurauan terlontar menciptakan suasana dalam mobil terbahak, namun pada akhirnya sedikit membuat beberapa kawan mabuk perjalanan. Pilihannya harus mampir sejenak untuk sekedar beristirahat.

Beberapa saat kemudian perjalanan berlanjut menuju Kota Kotamobagu, di kota ini kami berencana untuk makan siang. Di rute menuju Kotamobagu ini memaksa pak sopir sedikit memacu laju kendaraan. Saking lajunya, kami harus terpisah dengan 2 mobil lainnya, sehingga lagi-lagi komunikasi seluler menjadi pilihan kami guna bersepakat menentukan titik pertemuan untuk makan siang bersama. Setelah menentukan tempat berkumpul, menu makan siang tersaji. Sekitar sejam waktunya kami habiskan untuk santap bersama sambil senda-gurau dan menyiapkan bekal untuk menempuh rute berikutnya.

Jalanan Rusak

Selepas Kotamobagu, saya mulai diperhadapkan dengan kondisi tidak nyaman, bukan hanya di dalam mobil, tetapi juga diluar sana. Jalanan yang rusak mengusik kenyamananku. Banyaknya lubang menganga memaksa diri ini untuk ekstra tenaga menjaga keseimbangan. Beruntung sang sopir lihai memainkan gagang stir si Kijang. Ia bahkan terlihat seperti menari-nari mengikuti irama lobang jalan. Sementara dua mobil dibelakang kami satu persatu mulai tertinggal.

Di rute perjalanan ini saya menemui titik kebosanan ketika dikiri kanan jalan diperhadapkan dengan pemandangan kondisi alam yang rusak. Saya tak lagi melihat eloknya hutan dikawasan itu dan semangat pak tani mengelola ladang.

Puncaknya tertemui saat memasuki kecamatan Posigadan, sedikitnya ada 5 buah jembatan rusak parah dan tak layak dilalui kendaraan. Dua diantaranya sedang dalam pengerjaan pihak terkait. Papan petunjuk pengalihan arah jalan masih jelas terbaca sebagai tanda jembatan belum bisa dilalui. Namun tak terlihat aktifitas pekerja disana, entah apa alasannya, yang pasti pengguna jalan harus rela melewati sungai berarus deras untuk tiba diseberang.

Jalur alternatif trans Sulawesi pantai selatan wilayah Bolmong ini ternyata juga akrab dengan tanah longsor dan banjir bandang, pertanda nafas lega belum bisa dinikmati terutama saat kendaraan kami harus melewati jembatan darurat terbuat dari kayu kelapa. Dibawahnya terlihat mobil bus penumpang yang terperosok diterjang banjir. Warga dikawasan itu menyebut banjir dadakan sering muncul tiba-tiba. Sekeliling bus itu terdapat bebatuan besar yang hampir menyerupai wujud mobil. Setelah melintas, saya melihat proses evakuasi bus bernasib sial itu oleh tim BPBD menggunakan alat berat. Terbayang dibenakku jika banjir besar itu menghantam mobil kecil kami, seperti apa nanti nasibnya? Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Proses evakuasi itu menyita perhatian ratusan orang dari puluhan mobil yang terperangkap macet. Seorang sopir yang aku temui bercerita terbiasa melintas dikawasan itu, ia berkata banjir besar sering terjadi akibat gundulnya hutan di puncak bukit yang menjadi hutan lindung. Kabarnya juga terdapat kegiatan pertambangan emas di kawasan itu.

Tak terasa jarum jam menunjukan pukul 19.30 Wita, tetapi perjalanan ini seperti tak berujung. Desa Momalia dimanakah engkau? Walau telah berada di wilayah kecamatan Posigadan tetapi kami belum tahu dimana posisi desa Momalia yang akan kami tuju itu. Tugas selanjutnya tentunya menemukan desa Momalia. Kata pepatah ‘malu bertanya sesat di jalan’, makanya kami harus banyak bertanya. Keseringan bertanya hampir disetiap kampung yang dilewati menjadi jurus ampuh mengikuti pepatah diatas sekaligus mengakali tiadanya jaringan seluler disana.

Akhirnya kami tiba di desa Momalia sekitar pukul sepuluh malam dan langsung disambut tuan rumah dengan penuh ramah. Penganan tradisional plus kopi menjadi teman pembuka obrolan sebelum sajian menu makan malam menjadi santapan penutup. Raut kelelahan jelas terlihat di wajah-wajah penumpang tiga mobil ketika tersadar bahwa jarak tempuh dari Manado ke Momalia menyita waktu 12 jam lamanya.

Mengutip kata pak Camat Posigadan terkait radio komunitas disana, “Saya berharap radio ini bisa menjangkau seluruh desa di Kecamatan Posigadan yang memanjang 49 kilometer dari selatan ke utara,” adalah pertanda wilayah ini sangat luas. Terbayang betapa jauhnya wilayah ini dari pusat pemerintahan daerah. Dengan adanya radio komunitas di wilayah itu, kebutuhan informasi, hiburan, dan sebagainya bisa dinikmati warga untuk saling menkomunikasikan kebaikan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi kerakyatan di wilayah tertinggal.

Leave a Reply