WILAYAH Tambang Tatelu merupakan wilayah pengelolaan sumberdaya alam terutama emas yang dilakukan beberapa desa di sebagian wilayah Kecamatan Dimembe seperti Desa Talawaan, Tatelu, Warukapas, Tatelu Rondor dan Wasian. Usaha atau kegiatan dibidang tambang emas bagi masyarakat wilayah Tatelu, bisa dibilang “anak kalamaring sore”. Sebuah ungkapan dialek lokal Manado, yang artinya masyarakat Wilayah Tatelu, baru mengenal usaha dibidang tambang. Mereka tidak mengenal sejarah turun temurun didalam usaha tambang, dimana lima tahun yang lalu mereka tidak tahu menahu mengenai tambang.

Sejarah membuktikan, walaupun tahun 1953 sempat beredar informasi Bukit Batu Api mengandung Emas, masyarakat sekitar tidak tahu mengolah emas yang begitu besar depositnya. Beberapa tahun sebelumnya mereka hampir saja memberikan harta berharga tersebut kepada perusahaan asing. Walaupun mereka sempat “memberikan hadiah” kepada masyarakat yang paham tentang tambang emas yang kebetulan bukan dari wilayah tambang Tatelu untuk mendapat kue karena ketidaktahuan masyarakat lokal. Disaat bersamaan mereka justru “mendapat hadiah” yang cukup membuat repot mereka. Hadiah yang mereka terima tiada lain, dibombardirnya isu pencemaran merkuri di DAS Talawaan. Padahal sejak jaman wilayah Tatelu ada, kegiatan usaha yang mereka lakukan tidak jauh dari pertanian dan perikanan. Sebagian besar dari mereka setiap pagi sudah membawa alat pertaniannya untuk bekerja di kebun. Ratusan tahun mereka menanam kelapa, cengkeh, vanili dan berladang diatas “emas”.

Kelima desa wilayah Tatelu tersebut masuk bagian Daerah Aliran Sungai (DAS) Talawaan. DAS Talawaan sendiri diperkirakan mempunyai luas 34.400 Ha, secara geografis terletak pada 010 04’30″ – 010 06’ 55″ LU dan 1240 08’ 35″ – 1250 0’ 28″. Secara administratif terletak di Kabupaten Minahasa (Kecamatan Dimembe dan Kecamatan Wori) dan Kota Manado (Kecamatan Tuminting, Bunaken dan Mapanget). Desa yang termasuk Dalam DAS Talawaan sebanyak 51 desa, terdiri dari 30 desa di Kabupaten Minahasa dan 21 kelurahan di Kota Manado. Keadaan topografi wilayah DAS Talawaan pada umumnya merupakan daerah pegunungan dan berbukit–bukit yang tersebar pada wilayah sungainya. Sebagian besar areal berada pada daerah administrative Kabupaten Minahasa (80%) sedangkan 20% merupakan wilayah administratif Kota Manado. Salah satu perbukitan yang ada di wilayah DAS Talawaan ternyata mengandung sumber daya alam yang cukup menjadi perhatian semua pihak.

Menurut sanak keluarga Bartes Sompotan sebenarnya Tatelu punya sejarah yang putus mengenai penambangan emas di wilayah DAS Talawaan. Ceritanya pada tahun 1953 keluarga besar Sompotan sudah mulai menambang emas di Pasong Rarem, Tatelu. Bapak Bartes Sompotan merupakan salah satu tokoh masyarakat Desa Tatelu, waktu itu dia mendapat informasi dari seorang insinyur (pakar tambang) bahwa di daerah Pasong Rarem (tanah mereka) terdapat emas. Pasong Rarem merupakan wilayah passini (lahan pertanian yang dimiliki masyarakat) yang berdekatan dengan Bukit Batu Api dan Lempaoi menjadi areal tambang, sampai sekarang mereka menanami lahan pertanian tersebut dengan tanaman kelapa, cengkeh dan vanili, sisanya merupakan ladang dan pepohonan tahan lama yang merupakan tanaman tahunan.

Dengan pengetahuan dan informasi seadanya, keluarga Bartes Sompotan mulai mempersiapkan untuk mengeksploitasi daerah Pasong Rarem. Mereka membeli alat-alat tradisional pengolah emas seperti dulang, lesung dan penumbuk dari besi, dan merkuri (air perak). Dengan alat – alat tersebut, mereka lalu menggali tanah, layaknya menggali sumur dengan kedalaman kira – kira 10 meter. Kemudian batu berwarna putih (rep) yang ditemukan ditumbuk dengan menggunakan penumbuk besi diatas lesung. Batu yang sudah hancur dan halus dimasukkan kedalam dulang lalu dicampur dengan merkuri (air perak). Harapannya merkuri dapat mengikat butiran-butiran emas. Hasilnya menurut mereka, emas yang didapat tidaklah mampu menutupi modal yang disediakan. Kata lain, keluarga Bartes Sompotan mengalami kerugian materi (modal) dan mereka juga tidak mampu membuktikan kepada penduduk sekitar, bahwa di daerah Pasong Rarem ada emas. Lokasi galian seperti sumur yang ditinggalkan waktu itu, dikemudian hari dikenal dengan nama daerah “Galean”, sebutan lain (Pasong Rarem) bagi warga Tatelu, ketika mereka akan menuju lokasi tersebut.

Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1994, PT Tondano Nusa Jaya (sebuah perusahaan yang 85 % sahamnya dimiliki Aurora Gold Co., perusahaan tambang kenamaan asal Australia, sisa sahamnya dimiliki PT. Austindo Mining Corporation) berdasar kontrak karya dengan Pemerintah Indonesia tahun 1986, melakukan eksplorasi di Wilayah Talawaan. Selain PT. Tondano Nusa Jaya, Aurora Gold Co., mempunyai saham mayoritas di PT Meares Soputan Mining (sebuah perusahaan tambang yang melakukan eksplorasi di wilayah Toka Tindung, Blambangan, Padjajaran dll, kesemuanya terletak di kecamatan Likupang sekitar 14 Km dari Talawaan. Perusahaan ini juga sudah membangun pabrik pengolahan emas di Toka Tindung). Menurut penduduk sekitar, waktu itu perusahaan sudah melakukan pembebasan tanah sekitar 1 ha di Wilayah Desa Talawaan untuk keperluan operasional dan basecamp. Lanjut mereka, perusahaan waktu itu juga sudah membagi wilayah Bukit Api menjadi beberapa tempat dengan nama–nama lokasi seperti nama–nama lakon dalam cerita pewayangan jawa (Bima, Arjuna, Batu Kresna, dll). Menurut laporan Aurora Gold Co., dari hasil eksplorasi PT Tondano Nusa Jaya, kandungan emas dibawah Pasong Rarem, Bukit Batu Api dan Lempao, sekitar 1,4 juta oz. Dengan tingkat kedalaman mencapai 80 meter.

Menurut masyarakat, perusahaan sudah melakukan hubungan dengan masyarakat sekitar, ketika pihak perusahaan akan melakukan ekplorasi di tanah milik masyarakat. Waktu itu, selain kebutuhan pembebasan tanah untuk basecamp, perusahaan sudah mengadakan penggantian kerusakan lahan dan tanaman. Penggantian tanaman kelapa, waktu itu perpohonnya dihargai Rp. 100.000,00, Vanili, Rp. 6.000.00 per pohon, cengkih, Rp. 10.000.00 per pohon dan pohon-pohanan lainnya Rp. 500,00. Dengan deposit emas yang ada, waktu itu perusahaan mau membebaskan tanah masyarakat dengan harga Rp. 500,00 per m2, namun masyarakat menolak tawaran perusahaan dan mengajukan tawaran baru sebesar Rp. 5.000,00. Luas wilayah yang akan dibebaskan sekitar 60 ha (versi Aurora Gold sekitar 1.5 km2) terbagi kedalam 2 wilayah administrasi yakni Desa Talawaan dan Desa Tatelu. Dengan jumlah pemilik tanah sebanyak 52 orang sebagian besar pemilik tanah tersebut berasal dari Desa Tatelu.

Belum sempat perusahaan melakukan kompromi dengan pemilik tanah, wilayah tambang Pasong Rarem dimasuki penambang tradisional berasal dari Kotamobagu dan Tompaso Baru, Minahasa Selatan. Wilayah tambang Talawaan menjadi berita utama di media-media tentang keunggulan “standard gram” (kadar emas ketika diolah di tromol waktu itu, saat ini “standard batang” menjadi acuan pengusaha tromol) dan isu pencemaran lingkungan di DAS Talawaan yang diakibatkan penggunaan merkuri. Maka dengan sendirinya informasi tersebut membuka peluang penambang–penambang baru yang datang ke lokasi. Waktu itu, walaupun tidak ada kepastian jumlah, sekitar tahun 1999 para penambang dan pengolah tromol mencapai ribuan.

Para penambang dan penyandang dana yang datang dari berbagai daerah mengolah emas dengan menggunakan merkuri (istilah pengolahan emas dengan menggunakan merkuri adalah “tromol”). Peluang tenaga kerja begitu besar, mulai dari “rambangan” (para penambang yang berkelompok untuk menggali dan mencari “Rep”), penumbuk rep atau “Rempel” (pekerjaan menumbuk rep ini biasanya dikerjakan oleh pemilik tromol dengan mempekerjakan orang–orang dengan kompensasi uang per karung rep. Atau, rambangan sendiri menumbuk rep hasil tambang mereka. Kini usaha penumbukan rep telah menggunakan secara mekanis dengan investasi tertentu), angkutan sapi dan kendaraan, pekerja tromol dan bagian keamanan. Karena masyarakat wilayah Tatelu tidak mempunyai pengetahuan, keterampilan dan pengalaman mengolah tambang, maka mereka menjadi penonton di daerah sendiri. Sebagian dari mereka yang sekaligus pemilik tanah di areal tambang, mereka mendapat hasil dari bagi hasil sebesar 30% dengan pihak rambangan dan penyandang dana. Sementara lainnya mengambil peran jadi buruh penumbuk rep, dan mengambil peran bagian pengamanan.

Besarnya putaran uang di wilayah tambang yang kadar emasnya cukup besar, secara sadar atau tidak justru berhubungan positif dengan tingkat kriminal di daerah tersebut. Menurut tokoh masyarakat Talawaan dan Tatelu, pada tahun 1998 tingkat kriminalitas di wilayah mereka meningkat. Baru, sekitar pertengahan tahun 1999, masyarakat wilayah Tatelu dan Talawaan mulai belajar menjadi penyandang dana dan usaha tromol, kemudian lahan tambang yang tadinya dikuasai pendatang diambil alih masyarakat lokal. Kejadian pengambilalihan wilayah tambang oleh masyarakat lokal, pada tahun 1999 tersebut, dikenal dengan sebutan “Saur Sepuh”. Dimana menurut cerita tokoh masyarakat, waktu itu penduduk lokal dan pendatang (terutama dari wilayah Minahasa Selatan) bertarung layaknya jaman dulu dengan menggunakan samurai, tombak dan parang. Peristiwa itu juga sempat memicu konflik antar desa di wilayah tambang.

Masyarakat lokal mulai meniru pendatang dalam mengolah emas. Secara perlahan-lahan masyarakat lokal terutama pemilik tanah, mulai tahun 1999 sampai sekarang menjadi tuan di tanahnya sendiri. Mulai tahun itulah media dan public Sulawesi Utara menyorot perilaku tambang di wilayah Tatelu dengan isu “Pencemaran Merkuri di DAS Talawaan”. Banyak pendapat pengamat lingkungan yang menghubungkan keberadaan wilayah tambang Tatelu dengan peristiwa Minamata, Jepang. Menurut mereka, ratusan mungkin juga ribuan ton merkuri tumpah dan mencemari DAS Talawaan, juga menyebar ke udara lewat pembakaran merkuri. Kegiatan tambang di Tatelu terus berjalan.

Pada tahun 2000 pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mulai ikut memikirkan penyelesaian dampak pencemaran lingkungan oleh merkuri. Wakil Gubernur Sulawesi Utara memfasilitasi masyarakat lokal untuk transfer teknologi pengolahan emas dari Merkuri ke Sianida. Pemerintah provinsi melakukan berbagai pertemuan dengan masyarakat lokal dan berjanji untuk mencari penyelesaian dengan melakukan studi banding ke Philipina. Masih ditahun yang sama pemerintah provinsi membuat demplot pengolahan emas dengan teknologi sianida dibantu tenaga ahli dari Philipina. Demplot atau pilot project dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sulawesi Utara menunjuk Bapak Ferry Moningkey menjadi pimpinan proyek demplot.

Menurut pemilik tromol, harapan mereka untuk beralih ke teknologi sianida ternyata tidak terjadi, sampai pertengahan tahun 2002 alih teknologi yang dijanjikan pemerintah tidak terlaksana. Menurut berbagai informasi yang dikumpulkan kejadian pemboman di konsulat jenderal Philipina di Manado, secara kebetulan atau tidak, peristiwa tragedi kemanusiaan di Bali terjadi beberapa jam berikutnya, berhubungan langsung dengan alih teknologi di Tatelu. Kejadian tersebut juga merupakan sebagai dampak lamanya proses alih teknologi dari demplot teknologi sianida ke masyarakat lokal yang belum juga terwujud. ((Marcos/red)

Artikel ini sudah dimuat di Tabloid Swara Wanua:

Volume1-No.8 – APRIL2004-MEI2004 – swarawanua

Leave a Reply